Video Porno vs Pelaut Indonesia

Oleh: Jaya Suprana

Saturday, 12 June 2010

SEBENARNYA banyak berita lain yang lebih layak diberitakan, apalagi dihebohkan ketimbang video porno.Namun apa boleh buat memang bad news is good news. Maka makin brengsek beritanya memang makin layak diberitakan, bahkan dihebohkan, baik sebagai berita lewat media formal maupun sekadar gosip yang beredar dari mulut ke mulut atau di masa kini ditambah dari ponsel ke ponsel dan laptop ke laptop.

Yang jelas pasti tidak banyak berita tentang dua pelaut Indonesia akan memperoleh penghargaan kepahlawanan dari Pemerintah Korea Selatan dipergunjingkan apalagi di-download masyarakat Indonesia. Sementara di Indonesia mayoritas heboh berita Peterporn, di Seoul saya terhenyak membaca berita bahwa Pemerintah Korea Selatan akan menganugerahi dua pelaut Indonesia yang tewas saat turut serta dalam usaha menyelamatkan awak kapal perang Cheonan milik angkatan laut Korea Selatan yang karam di semenanjung Korea.

Di Indonesia sendiri sebenarnya berita itu juga telah disebarluaskan ANTARA, bahwa Duta Besar Korea Selatan untuk Indonesia telah menyatakan bahwa kedua pelaut Indonesia itu akan menerima penghargaan untuk kontribusi mereka terhadap keamanan sosial dan stabilitas Korea Selatan.Pemerintah Korea Selatan dengan KBRI di Seoul masih mendiskusikan tempat untuk melakukan upacara pemberian penghargaan tersebut. Kedua pelaut yang kebetulan samasama berusia 36 tahun tersebut ialah Lambang Nurcahyo yang ditemukan meninggal dunia dan Yusuf Harefa dinyatakan hilang dalam bertugas setelah kapal Korea Selatan itu karam pada 26 Maret lalu.

Keduanya dianggap pahlawan oleh Pemerintah Korea Selatan setelah kapal yang mereka tumpangi tenggelam bersama lima pelaut Korea Selatan akibat bertabrakan dengan kapal kargo berbendera Kamboja di Laut Kuning. Dubes Korea Selatan untuk Indonesia menyatakan pemerintahnya juga akan memberikan tanda simpati kepada tiap keluarga pelaut Indonesia itu dalam bentuk uang sebesar 125 juta won atau sekitar Rp 922 juta.

Selain itu,Pemerintah Korea Selatan akan membayar uang asuransi sebesar masingmasing senilai Rp370–400 juta kepada keluarga yang ditinggalkan kedua pelaut Indonesia tersebut.

Selain medali penghargaan dan uang,masyarakat di Korea Selatan dan warga Korea Selatan di Indonesia secara sukarela mengumpulkan sejumlah uang yang kemudian disumbangkan kepada keluarga korban. Sifat dan gema berita kepahlawanan dan kemanusiaan itu agak beda dengan berita video porno, sebab para artis yang tampil di video porno tidak memperoleh penghargaan medali dan uang,tapi malah cemooh,bahkan caci maki.

Di samping itu,peredaran video porno secara tidak resmi itu malah menimbulkan dampak keborosan konsumtif, sebab konon ratusan ribu pengguna ponsel sibuk mendownload rekaman video porno yang beredar di semesta maya dengan konon setiap download bertarif Rp5.000 dengan hasil sekadar pemuasan semu rasa ingin tahu keberahian belaka tanpa pemuasan yang lebih nyata lainnya.

Andaikata para downloader berjumlah 100.000, maka dana yang dihamburkan untuk men-download video porno Peterporn adalah 100.000 x 5.000 = Rp500 juta yang bisa dimanfaatkan untuk membangun gedung sekolah atau puskesmas.

Adapun yang men-download berita tentang kisah dua pelaut Indonesia yang memperoleh penghargaan dari Pemerintah Korea Selatan mungkin bisa dihitung dengan jari belaka. Maka tidak bisa dibantah bahwa nilai pasar berita kepahlawanan dua pelaut Indonesia dan kemanusiaan Pemerintah Korea Selatan itu jelas jauh di bawah nilai pasar jurnalistik berita tentang peredaran video porno kaum artis,termasuk rekaman video porno itu sendiri yang memang jauh lebih menguntungkan para providerdan produsen berita di media cetak dan media elektronik demi meningkatkan rating yang apa boleh buat memang merupakan ukuran keberhasilan industri jurnalistik penganut paham bad news is good news.

Tinggal pertanyaan yang entah perlu atau tidak dijawab adalah apakah semua dalam hidup ini memang harus diukur dengan uang?

(*) JAYA SUPRANA

Harian Seputar Indonesia, Sumber Referensi Terpercaya, Sabtu, 12 Juni 2010

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak

About these ads

2 Responses

  1. Saya setuju tulisan Anda ” apa boleh buat memang merupakan ukuran keberhasilan industri jurnalistik penganut paham bad news is good news” dan sayang sekali masyarakat kitapun menggemari Gosip dll …

  2. mas bro yang saya heran kok jarang sekali bahkan gak ada vidio mesum pelaut,,,,,pdahal kalau vidio mesum pns,pelajar dll itu kan banyak di mbah google….hehehe gitu aja masih banyak orang yang menganggap bahw pelaut itu mesum,mata keranjang dll.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: